Aku Menunggumu Bersama Embun, Sebuah Puisi Penantian

September 10, 2013 Posted by Edutafsi ,
Aku masih terlalu bodoh untuk mengaku hebat
masih terlalu lemah untuk mengaku kuat
setiap kali aku mengaku bisa
tapi tak sekalipun aku benar-benar sanggup

seringkali aku mengaku yakin
bahkan tak sekalipun aku tunjukkan keraguan
tapi aku tak bisa benar-benar mempercayainya
kehilangan selalu menjadi pukulan buatku

aku masih ingat doa-doaku
agar aku bukanlah orang yang ditinggal pergi
tiap hari aku berharap agar aku lebih dulu pulang
pulang ke penciptaku

tapi doaku tak semuanya terjawab
nyatanya aku merasakan yang orang lain rasakan
kehilangan adalah kodrat manusia
dan aku bahkan tak boleh berdoa untuk mengingkarinya
karena kalau boleh
tentulah aku yang akan pergi lebih dulu

Aku menyesal karena terlalu bodoh
sampai-sampai tak tahu bagaimana mencintai
bagaimana menunjukkan cinta
bagaimana menjaganya
dan saat aku berharap waktu dapat berulang
aku hanya bisa menunggumu

bersama embun aku menunggumu di sini
menunggumu untuk datang
atau menunggumu untuk menjemput
atau berharap kau menunggu untuk kususul
aku menunggumu di pagi buta
berharap wujudmu dapat kutangkap