Showing posts with label Puisi Hati. Show all posts
Showing posts with label Puisi Hati. Show all posts

Jika Buku Bisa Bicara, Sebuah Puisi Tentang Buku

May 17, 2015 Posted by Edutafsi ,
Berdiri aku bersama tatapan kosong
Tepat di depan puluhan buku yang mengeram di rak
Dalam sesaat kudengar mereka saling berbisik

"Sedang apa si bodoh berdiri di sini?"
Menunggu pacar jawabku
Ah,,, mungkin aku sudah mulai gila.

Kucermati kertas indeks di sisi kanan rak
Berharap temukan daftar buku yang kucari
Gerombolan huruf-huruf kecil itu seperti menari-menari

"Apa cari bang?", telingaku menangkap suara
Kali ini biarkan aku lebih fokus
Sebab mungkin aku memang sudah gila.

Kepalaku mulai berputar dan kesabaran mulai habis
Entah mengapa mencari buku membuatku ingin muntah
Kali ini suara-suara mereka semakin jelas

"Dasar idiot, apa sebenarnya yang dia cari?"

Aku mencermati mereka membalik lembar demi lembarnya
Aku sudah tidak tahan lagi!

Fokusku akhirnya berhenti pada sebuah buku tua
Buku jelek bersampul coklat yang entah bagaimana bisa ada di sana

Sedikit bersemangat, aku terus mengumpat dalam hati
Siapa gerangan yang akan sudi membacanya?
Barangkali ia hanya sekumpulan kertas ubi kosong yang usang

Lantas tamparan keras mendarat di pipiku
Burung-burung berputar di kepala dan kritikan terniang di telinga
"Don't judge me by the cover!"
Kali ini aku benar-benar gila!

Apa Daya Aku Manusia, Puisi Tentang Manusia Sebatang Kara

May 17, 2015 Posted by Edutafsi ,
Malam berlalu, tapi gelap tetap bertengger
Mengurung segumpal darah di tempantya bergantung

Menyumpat udara yang memberi kehidupan
Membunuh keberanian yang pernah menguasai diri
Apa daya aku hanya manusia

Pada malam aku berbagi pilu
Tentang siang yang sama sekali tak indah

Tentang angin berhawa panas yang mengikuti setiap langkah
Lantas malam sepertinya tak pintar bersimpati

Memang tak panas tapi beku tulang karenanya
Apa daya aku manusia

Malam berlalu, tapi gelap tak bergeming
Kegelapan itu bertengger dalam seonggok darah

Menelan bulat-bulat nyali yang menciut
Tak ada satupun kesombongan mampu beralih

Pada siang terik aku bersumpah serapah
Tentang malam yang sama sekali tak bersahabat

Tentang awan hitam yang menghalangi keagungan bintang
Lantas siang sama sekali tidak empati

Hanya daun yang bergoyang seolah tak perduli
Apa daya aku manusia

Mei Basah, Sebuah Puisi Ungkapan Hati di Bulan Mei

May 06, 2015 Posted by Edutafsi ,
Hujan lagi, lagi-lagi hujan
Persinggahan seperti menjelma menjadi negeri di atas awan
Dari kejauhan mata-mata gedung mengintip malu
Di sela-sela petir angin mencoba berbisik
Daun jendela yang menggingil berdecit tak jelas
Jangan nangis kalau kena sembur hujan

Mendung lagi, lagi-lagi mendung
Lorong dan koridor menjelma jadi goa gelap gulita
Dalam telinga hiruk pikuk bersenandung rusuh
Burung hantu berselfie ria dipotret kilat
Petir menggonggong anjing membisu membodoh
Mau nangis malu dilihat banyak orang

10 menit, 20 menit, 1 jam sudah
Hujan terus, terus-terusan hujan tak berhenti
Atap 40 cm terbang ikut-ikutan angin tampilkan badai
Berjam-jam bertapah akhirnya basah juga
Kampret!

Banjir lagi, lagi-lagi banjir
Selokan muntah berubah jadi sungai musi
Tak cuma petir, klaksonpun tak berhenti berteriak
Mau marah takut dikeroyok
Kampret!

Mencari Arti Kebahagiaan, Sebuah Puisi Hati

May 04, 2015 Posted by Edutafsi , ,
Pemilik hati, pernahkah bertanya padanya?
Tentang apa yang harus dan apa yang tidak
Tentang bagaimana ia menyikapi hidup
Tentang bagaimana ia mengartikan kebahagiaan
Tentang mengapa warna harus menjadi alasan

Pemilik jiwa, pernahkah bertanya untuknya?
Tentang apa yang benar dan apa yang tidak
Tentang bagaimana ia menjalani hidup
Tentang bagaimana ia memahami kebahagiaan
Tentang mengapa warna menjadi penyebab

Pemilik rasa, maukah bertanya padanya?
Tentang apa yang layak dan apa yang tidak
Tentang bagaimana ia menikmati hidup
Tentang bagaimana ia memaknai kebahagiaan
Tentang mengapa warna memaksa variasi

Pemilik mata, akankah lihat tanya untuknya?
Tentang apa yang pantas dan apa yang tidak
Tentang bagaimana ia memandang kehidupan
Tentang bagaimana ia menghardik kebahagiaan
Tentang mengapa warna membutakan keragaman

Pemilik hati, tanyalah sekali lagi untuknya!
Tentang apa yang cukup dan apa yang tidak
Tentang bagaimana kau menjalani hidup
Tentang bagaimana kau memandang kebahagiaan
Tentang mengapa perbedaan merusak warna

Sebab kebahagiaan ada dalam hatimu
Bukan apa yang kau ingin lihat
Bukan apa yang ingin kau miliki
Bukan apa yang ingin kau rasakan
Sekalipun bahagia menyamar dalam rasa

Satu Suara Sampai Mati, Puisi Tentang Persahabatan

April 20, 2015 Posted by Edutafsi ,
Kita berjalan dengan hati menyatukan 2 kaki menjadi satu arah
Terkadang jatuh dan kita saling ulurkan tangan
Aku bilang kau bodoh kau hanya sunggingkan senyum
Lalu ulurkan lidah saat canda tak mampu kau balas

Kita tak butuh permata di dalam dunia
Kita punya cahaya mata jauh lebih silau
Kita tak pernah mengeluh
Hanya saat kita tidak punya waktu
Aku diam kau terus bicara
Tak perduli betapapun aku mengabaikan kau terus membujuk
Aku tak peduli dan terjatuh
Dan tanpa ragu tanganmu kembali terulur

Pelukanmu menyesak
Aku tak bisa bernafas tapi mataku tak berhenti menangis
Gelenyar ini aneh
Betapapun aku benci, terasa nyaman menangis di depanmu

Untuk kesekian kali kau ucap maaf
Dan tanpa kata kau mengerti aku membutuhkanmu
Tak perduli apapun prasangka
Kita masih sahabat

Kau sekarang menjadi aku
Diam tanpa mau melihat, menangis tanpa mau berisak
Aku tak bisa terus bicara
Aku meninggalkanmu dan tak akan terus membujuk
Aku berlari dan tak mampu mengejarmu
Kau jauh padahal di sampingku

Aku bingung bukan lantaran habis akal
Aku tahu sia-sia melakukan hal yang sama
Harus ada yang menjadi lilin saat yang lain kegelapan
Harus ada yang jadi bahu untuk bersandar
Dan saat itulah kau ajarkan bagaimana bersahabat
Bersahabat dengan hati
Sahabat sampai mati.


Sayap Kecil Malaikat, Sebuah Puisi Tentang Khayalan

April 19, 2015 Posted by Edutafsi ,
Embun yang bergelantungan, akhirnya tak mampu bertahan
Menetes dan tercerai berai, menangisi yang mengering
Tempatnya berdiri sejuk, segar tercukupi airnya
Sekalipun terik nanti, ia akan segar di sore hari, kembali
Pucuk daunnya tegak percaya diri
Menanti embun esok pagi

Di atas daun bertengger makhluk kerdil
Dengan sayap kecil ia bertopang
Melompat-lompat seolah ingin menjatuhkan semua debu
Meninggalkannya sebagai jejak, untuk esok ia lihat
Agar ia mengenal dedaunan rimbun
Memastikan mereka tidak berganti, gugur dan kering di tanah
Ia merasa guncangan yang rapuh
Namun tetap di situ

Makhluk kerdil bersayap kecil
Terus menari sambil waspada, sadar daun tak lagi kuat
Henti sejenak, bertopang dagu, tapi matanya berkaca
Ia kepakkan sayap kecilnya, mencoba untuk melompat
Semakin kuat, semakin ia lemah
Tak lagi mampu mengudara

Makhluk kecil bersayap lemah
Seperti daun, menunggu gugurnya
Berharap berubah menjadi elang, takhlukkan buasnya angin
Bertanya-tanya dalam hatinya
Apakah tempatku mengadu?
Bertanya-tanya dalam hatinya
Apakah ada yang mengaturku?
Terus bertanya dalam hatinya
Apakah ia peduli?

Sayap kecil melekat di bahunya
Sesekali ia meringis, mencoba melepasnya
Merasa itu tiada berguna, tak dapat angkat tubuhnya
Makhluk kerdil, bersayap kecil
Terduduk pasrah, di atas daun 
Menunggu gugur