Showing posts with label Cerpen Horor. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Horor. Show all posts

Tak Ada Jalan Pulang, Perjalanan Akhir Dimulai

May 07, 2015 Posted by Edutafsi , ,
Tak seperti kebanyakan orang yang senang saat mengetahui dirinya lulus ke PTN, Lia justru merasa sedih dan tak kuasa menahan tangis. Airmata itu bukan airmata kebahagiaan melainkan kesedihan yang mendalam. Sang Ayah mendekati Lia dan menepuk bahunya sambil tertawa.
"Loh, kok malah nangis, paling juga empat tahun. Kan bisa pulang kalo kangen rumah."
"Ya ndok, kenapa kok mala nangis?" timpal Ibu.
Lia tak menjawab pertanyaan ibu dan terus menangis terseduh-seduh. Ibu lantas memeluknya dan membawa Lia ke kamar. Sambil bernyanyi Ibu membereskan barang-barang yang akan dibawa Lia.

Dani merasa aneh melihat tingkah sang kakak dan meminta Ayah untuk bertanya padanya. Ayah lantas menjelaskan kepada Dani bahwa hal itu biasa. Lia akan menjalani perkuliahan di luar kota, jauh dari keluarga, maka wajar jika ia bersedih. Begitulah pemikiran sang Ayah. Namun tidak begitu dengan Dani. Bocah itu merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Lia.

Karena tidak puas dengan penjelasan Ayah, sekitar pukul 10 malam, Dani memutuskan untuk menemui Lia di kamarnya. Selain heran dengan tingkah laku Lia, Dani juga merasa sedih karena harus berpisah dengan sang kakak.
"Kak?"
"Dani? Tunggu bentar," Lia segera menghentikan pekerjaannya dan membuka pintu. "Ada apa?"
"Boleh masuk?" tanya Dani.
Lia tidak mengatakan apa-apa dan membiarkan Dani masuk. Dani mengamati kamar Lia yang terlihat kosong. Sebagian barang-barang telah tersusun dalam kardus-kardus dan koper. Di atas meja terlihat komputer masih menyala.
"Kok belum tidur?" tanya Lia. Suaranya masih terdengar parau.
"Iya nih gak bisa tidur. Kakak kenapa belum tidur?"
Lia tidak menjawab pertanyaan Dani dan hanya diam memperhatikan langit-langit kamarnya.
"Kok tadi kakak nangis sih? tanya Dani.
"Hmmm, gak tahu kakak sedih aja ninggalin rumah."
"Namanya juga kuliah kak, kan masih bisa telepon tiap hari. Kalau kangen bisa pulang."
"Ya, kakak akan sering telepon. Tapi, gimana kalau gak bisa pulang?" tiba-tiba airmata Lia menetes.
"Kok kakak ngomongnya gitu? emangnya ada apa sih?"
"Gak ada apa-apa dek. Udah ah, kakak ngantuk. Kamu tidur sana udah malam. Entar dimarah sama Ayah."
Deni pun segera keluar dari kamar Lia.

Keesokan harinya, setelah sarapan Lia berpelukan dengan Ibunya karena ia akan segera berangkat. Lia diantar oleh sang Ayah. Karena terbawa suasana Denipun ikut menangis saat melihat Lia menangis terseduh-seduh.

Dalam hatinya, ia juga merasa sedih. Meski begitu, Deni merasa bingung mengapa dia bersedih. Ayah lantas berusaha untuk menenangkan Lia. Setelah menyusun barang-barang di dalam bagasi mobil, Lia dan Ayahpun berangkat. Tak berapa lama kemudian, Deni juga berangkat ke sekolah.

Seminggu berlalu, rumah tampak sepi tanpa kehadiran Lia. Hampir setiap hari selepas maghrib Lia menelepon ke rumah. Ia mengatakan bahwa Ia sudah kangen rumah dan ingin pulang. Suaranya terdengar berat dan seperti sedang menangis.

Hal itu tentu membuat Ayah dan Ibu khawatir.
"Baru pergi kau sudah mau pulang. Sabar-sabar dong. Oya, gimana kuliahnya kak?" tanya Ayah lewat telepon.
"Baik, cuma kakak gak suka lingkungan di sini Yah."
"Loh kenapa memangnya? Ya namanya masih baru, entar kan terbiasa."
"Gak tahu ni, orang di sini aneh-aneh. Deni lagi ngapain?"
"Deni lagi keluar sama temennya. Eh udah dulu ya kak, Ayah mau pergi pengajian. Jaga kesehatan dan makan yang teratur. Dengar ya?"
"Iya Yah."

Tepat setelah Ayah mematikan teleponnya, pintu kamar Lia diketuk dari luar. Dari balik pintu terdengar suara wanita memanggil-manggil namanya. Lia segera membuka pintu namun tidak menemukan siapa-siapa. Hal itu membuat bulu kuduk Lia berdiri.

Apalagi ia yakin betul tak seorangpun di rumah itu yang mengetahui namanya. Matanya bergerak liar memperhatikan sekitarnya untuk mencari keberadaan wanita itu. Pepohonan mangga yang tumbuh di sekeliling rumah itu membuat suasana menjadi seram. Lampu penerang yang redup membuat suasana menjadi mencekam.

Lia memutuskan untuk segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat. Meski berada di dalam kamar, ia masih merinding dan ketakutan. Ia merasa heran siapa wanita yang memanggilnya itu. Tak berapa lama Lia mendengar dua orang tetangganya yang baru pulang dan lewat di depan kamarnya.

Lia lantas segera keluar dan menyapa mereka. Lia menceritakan kejadian yang ia alami dan kedua wanita itupun menatap Lia dengan ekspresi yang sulit dimengerti. 

"Ihhh kamu gak bercanda kan? Selama ini gak ada yang kayak gitu kok!" ucap Dini yang wajahnya berubah menjadi pucat.
"Ah paling temen kamu ngerjain," sambung Rani yang terlihat berusaha untuk tidak panik.
"Siapa juga yang kurang kerjaan gitu Ran? lagian dia sembunyi dimana coba?" repet Dini.
"Iya ya? terus itu siapa dong?" Rani bergerak merapat ke Dini.
Dini lantas bercerita panjang lebar tentang seorang wanita yang sebelumnya menempati kamar Lia. Wanita itu bernama Putri. Ia ditemukan tewas di halaman belakang setelah beberapa hari tidak terlihat.
"Banyak sih yang bilang sering diganggu tapi jangan sampek deh."
"Emangnya dia meninggal kenapa Kak?" tanya Lia.
"Katanya sih dibawa hantu penunggu pohon mangga itu."
Mata Lia terbelalak tak percaya.
"Katanya dia sering denger suara manggilin dia dari luar," jelas Dini.
"Hmmm, aku boleh numpang gak di kamar kakak? Takut sendirian."
"Boleh. Udah ayuk tidur sama kami aja," ajak Rani.
Lia membawa bantal dan selimutnya ke kamar Dini dan mereka bertiga tidur di sana karena takut.

Keesokan paginya, sekitar pukul setengah enam, Dini dan Rani terkejut karena pintu kamar terbuka dan Lia tidak ada di kamar. Mereka segera keluar mencari Lia ke kamarnya namun tidak ketemu. 
"Mungkin dia udah pergi Din."
"Ke mana jam segini Ran?"
Karena panik, Dini dan Rani pun membangunkan beberapa anak kos yang lain untuk menanyakan keberadaan Lia. Merekapun menceritakan tentang kejadian yang dialami Lia.

Karena ribut, salah seorang penghuni kos yang terkenal pendiam, Tiwi, keluar dari kamarnya dan mencoba bergabung. 
"Gak salah lagi, pasti ini ada hubungannya sama Putri!" ucap salah satu penhuni seniro di rumah itu.
"Tadi aku liat ada cewek sih di depan tapi aku gak terlalu merhatiin," sambung Tiwi.
"Bajunya warna apa?" tanya Dini.
"Hmm,, kalau gak salah warna hijau gitu rambutnya sebahu."
"Iya itu dia, kamu liat gak dia ke mana?"
"Tadi sih dia duduk doang di depan situ cuma gak tahu pergi kemana," jawab Tiwi sambil menunjuk sebuah kursi dari semen yang dibangun di depan rumah kos tepat di bawah pohon mangga.
"Di kamarnya yakin gak ada? aduh mesti lapor tante ini. Telepon tante ajalah daripada ntar kenap-napa."
Wanita itu segera menelepon pemilik kos untuk meminta bantuan.

Hari sudah terang, Lia belum juga ditemukan. Salah satu anak kos mencari ke kampus namun tidak menemukan Lia di sana. Ia bahkan merasa heran karena tidak satupun mahasiswa di kampus yang mengenali Lia.

Saat bertanya ke bagian jurusan, mereka mengatakan bahwa Lia tidak pernah hadir sejak hari pertama kuliah. Hal itu membuat Dini dan teman-temannya semakin bingung. Mereka semakin yakin Lia hilang karena handphone dan tasnya masih berada di kamar.

Sandal yang terkhir kali ia kenakan pun masih ada di depan kamar Dini. Setelah mendengar penjelasan Tiwi, Ibu kos pun berkesimpulan bahwa Lia disembunyikan oleh makhluk halus. Tak ingin kejadian yang menimpah Putri terulang, pemilik kos berinisiatif untuk mendatangkan orang pintar.

Setelah menunggu selama dua jam akhirnya orang pintar yang dihubungi oleh pemilik kos pun datang. Dia adalah Santi, seorang wanita paruh baya yang terkenal bisa mengusir setan yang tinggal di kompleks sebelah. Begitu masuk ke perkarangan rumah itu, mata Santi langsung tertuju pada salah satu anak kos, Tiwi.

Hal itu membuat semua orang bingung. Tiwi pun merasa tidak nyaman dngan tatapan Santi dan mencoba untuk bergeser. Pemilik kos segera menyambut Santi dan menceritakan kejadian yang menimpa Lia.

Santi segera masuk ke kamar Lia ditemani Ibu kos, sementara beberapa anak kos terlihat menunggu di depan kamar Lia sambil berbisik-bisik. Santi terlihat membacakan beberapa kalimat mantera dan berjalan mengitari tempat tidur Lia.

Tak berapa lama kemudian, Santi keluar dan menanyakan wajah Lia kepada ibu kos. Karena tidak ada foto di kamar Lia, Dini mencoba memeriksa handphone Lia yang tertinggal di kamar untuk menunjukkan wajah Lia kepada Santi.

Begitu melihat foto di handphone Lia, wajah Santi berubah menjadi pucat. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya berbicara. Penjelasan Santipun membuat orang-orang terkejut dan merinding. Santi menjelaskan bahwa Lia lah yang ia lihat saat pertama kali masuk ke rumah itu.

Ia mengatakan bahwa saat itu Lia berdiri tepat di belakang Tiwi. Hal itu sontak membuat Tiwi terkejut. Dini dan Rani terlihat berpelukan. 
"Dia sudah hilang beberapa hari, mungkin sejak dia tinggal di sini. Itulah sebabnya dia tidak pernah datang ke kampus, makanya tidak ad yang kenal," jelas Santi.
Semua orang semakin terbelalak. 
"Tapi tadi malam dia tidur sama kami loh buk?" sanggah Dini.
"Itu cuma ruh nya."
Jawaban Santi membuat Rani dan Dini semakin bergidik. 

Santi meminta ibu kos untuk menghubungi orangtua Lia dan menyuruh mereka datang. Setibanya di sana, keluarga Lia pun menangis histeris saat mengetahui anak mereka telah meninggal dunia. Lia ditemukan dua jam sebelum orangtuanya sampai.

Lia ditemukan tak bernyawa di tempat yang sama dimana jasad Putri ditemukan. Orangtua Lia terlihat syok dan tidak percaya mendengar penjelasan Santi karena setiap hari mereka menerima telepon dari Lia. Santipun berusaha menjelaskan semampunya.

Di sela-sela penjelasan itu, Deni menceritakan kepada orangtuanya bahwa sehari setelah kepergian Lia, ia mendengar suara sang kakak menangis di kamar namun saat itu ia berfikir bahwa itu hanya mimpi.

Misteri Lantai Lima, Cerpen Horor Tentang Kematian Reza

May 04, 2015 Posted by Edutafsi , ,
Hujan reda dan langit mulai terlihat cerah. Reza menarik selimutnya, melipatnya seperti biasa, dan meletakkannya di atas bantal. Ia berjalan ke meja belajar untuk memeriksa kotak pesan di Hp-nya. Ada banyak pesan masuk dan ia mencoba membukanya satu persatu namun ia memutuskan berhenti saat menyadari bahwa isi pesan-pesan tersebut hampir sama.

Pesan tersebut berasal dari teman-temannya. Reza menarik nafas dan bergegas ke kamar mandi. Dalam hatinya ia bertanya-tanya apa yang telah terjadi sehingga teman-temannya mengiriminya pesan seperti itu. Ia tak membalas satupun pesan yang ia terima.

Begitu selesai mandi, pintu kamar Reza diketuk dari luar. Reza meminta orang itu untuk menunggu. Sambil berdehem ia terburu-buru memakai pakaiannya. Ia mengancing bajunya sambil membuka pintu dan mendapati seseorang yang sudah tak asing lagi baginya.
"What?", tanya Reza ketus.
"May I?", anak itu meminta izin untuk masuk.
"What u want? aku sedang terburu-buru."
"Gak ada. Aku cuma mau mampir saja."
"Oke, berarti kau datang di waktu yang tidak tepat. Aku sudah terlambat 10 menit yang lalu dan aku harus segera berangkat", Reza telihat teburu-buru mengganti isi tasnya.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya? why?" Reza mengernyitkan dahi dan menatap wajah anak itu dengan sedikit geram.

Reza memang sedikit tidak ramah ketika sedang terburu-buru. Ia tidak tahu harus bagaimana menyikapi posisinya dengan baik.
"Aku dengar kejadian itu."
"Kejadian apa?"
"Wajahmu pucat Za, aku rasa kau harusnya istirahat."
"Oke dengar, aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Dan jika tidak keberatan bisakah kita keluar sekarang karena aku sudah benar-benar telat, dan kita bisa menyambung pebincangan ini nanti, oke?"

Reza menyeret temannya keluar dan segera mengunci pintu. Ia berjalan menuruni anak tangga dan meninggalkan asrama dengan langkah yang terburu-buru. Sepanjang perjalanan, tatapan Reza terlihat kosong dan fikirannya kacau.

Ia tidak tahu apa yang mengganggu fikirannya saat itu. Sambil memandang jam tangannya ia terus berjalan. Setibanya di kelas Reza tidak menemukan teman-temannya. Kelas itu kosong dan masih terlihat rapi seolah-olah tidak pernah ada orang sebelumnya.

Rezapun berfikir bahwa mungkin perkuliahan di pindah ke kelas lain. Ia segera mengirim pesan ke teman dekatnya dan tak kunjung mendapat balasan. Ia berjalan sepanjang koridor dan mengintip ke dalam kelas dari sisi pintunya. Karena tidak menemukan teman-temannya, Reza memutuskan untuk pegi ke perpustakaan.

Begitu keluar dari gedung perkuliahan, langit terlihat mendung kembali. Tiba-tiba saja hari menjadi gelap seperti petang. Pepohonan berayun kencang dan dedaunan berguguran memeluk tanah. Dengan cahaya lampu penerang yang sebagiannya mati, jarak pandang juga menjadi terbatas.

Reza berjalan terburu-buru ke perpustakaan karena khawatir hujan akan turun. Ia berjalan di sepanjang trotoar dan merasa heran karena tidak melihat seorangpun di perjalanan. Kampus benar-benar sepi seperti hari libur.

Ia lantas bertanya-tanya dalam hatinya bahwa mungkin hari ini adalah hari libur. Reza membuka kembali pesan di hp-nya dan mencoba mencermati isi pesan tersebut. Ia masih tidak tahu maksud dari pesan tersebut.

Reza semakin heran ketika mendapati perpustakaan tertutup. Di saat yang sama, hujanpun turun begitu deras disertai angin yang membuat Reza harus berteduh di lorong masuk perpustakaan. Anak itu memeluk tubuhnya sendiri dan mulai menggigil.

Ia mengelurkan jaket dari tasnya dan segera mengenakannya. Dengan tangan gemetaran Reza mencoba menghubungi teman-temannya namun tak satupun menjawab panggilannya. Ia lantas menggerutu dan mencoba mengamati sekelilingnya.

Pemandangan yang ia lihat mebuat Reza terheran-heran. Ia memang jarang ke pepustakaan tapi ia yakin betul bagaimana lingkungan perpustakaan. Semua yang ia lihat benar-benar berbeda.
"Sejak kapan perpus jadi seperti ini?" tanyanya.

Reza terus memperhatikan hp-nya berharap ada balasan dari temannya. Anak itu semakin gelisah karena langit semakin gelap dan hujan tak kunjung reda. Sudah hampir dua jam ia terjebak di lorong itu dan badannya semakin menggigil.

Karena gemetar, Rezapun menjatuhkan hp-nya. Buru-buru ia memungut hp-nya yang berserak dan mencoba menghidupkannya kembali. Akan tetapi hp itu tidak lagi berfungsi. Hal itupun membua Reza kesal. Ia lantas berteriak sambil membanting hp-nya. Ia terlihat sangat geram.

Terjebak hujan dan tidak bisa bebuat apa-apa memang hal yang sangat dibenci oleh Reza. Sedari tadi ia berniat untuk kembali ke asrama menembus hujan namun hujan yang disertai badai membuatnya khawatir akan banyak pohon yang tumbang di jalanan sehingga ia mnegurungkan niatnya. Tapi siap sangkah jika hujannya begitu lama sehingga membuatnya marah.

Ketika Reza memutuskan untuk duduk di sudut lorong yang merupakan sau-satunya lokasi yang bebas dari air hujan tiba-tiba ia mendapati seseorang berlari ke lorong tersebut. Seorang pria bertubuh kurus yang tingginya hampir sama dengannya.

Pria itu berjalan menghampiri Reza dan menyapanya.
"Kau baik-baik saja?"
"No, aku sudah berjam-jam di sini dan hujan belum juga reda"
"Berjam-jam?" pria itu tersenyum. "Memangnya apa yang kau lakukan di sini?"
 
Reza memandang pria itu geram. Ia merasa pertanyaan itu sangat tidak pantas ditanyakan.
"Memangnya apa lagi?" Reza berusaha tidak ketus.
"Aku tidak tahu?"
"Apa kau kuliah di sini?" tanya Reza. 
"Ya, dulu aku kuliah di sini."
"Kau sudah selesai? lalu apa yang kau lakukan di sini?"
"Mencari seseorang"
"Oh, apa ini hari libur? Kenapa kampus jadi sangat sepi?" tanya Reza.
Pria itu lantas tersenyum, "Aku fikir kau lebih tahu seharusnya."
"Ya, aku memang sedikit lupa", Reza menatap wajah pria itu lekat-lekat. Ia sedikit meras tidak nyaman karena merasa pria itu sedikit aneh. Untuk sesaat Reza merasa sering melihat pria itu namun sesaat kemudian ia tak mengingat apapun.

Reza berjalan menjauhi pria itu dan mencari tempatnya sendiri. Pria itu tetap di posisinya dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Wajahnya pucat dan matanya sayu. Rezah berteduh di sudut lainnya dan tidak peduli jika air hujan terkadang membasahi bajunya.

Tak lama di sana, hp Reza tiba-tiba berdering. Ia segera mengeluarkan hp itu dari kantungnya dan merasa sedikit senang karena hp itu hidup kembali. Reza memeriksa kotak pesan dan membaca beberapa pesan dari temannya. Pesan-pesan itu membuat hati Reza hancur.

Dalam seketika ia menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Ia menatap ke arah pria tadi dan mendapati pria itu berdiri tanpa kaki membelankanginya. Reza semakin panik ketika pria itu menatapnya. Pria itu tersenyum dengan senyuman menakutkan yang membuat Reza histeris.

Semua berawal di hari jumat minggu lalu. Tiba-tiba Reza menjadi aneh dan sering mengeluh kepada teman-temannya. Reza bercerita bahwa ia sering melihat seseorang di gedung kosong yang terletak di depan gedung asrama.

Kamar Reza berada di lantai lima dan tepat di kamar yang sejajar dengan kamarnya, di gedung kosong tersebut, Reza seringkali mendapati seorang pria menatap ke arahnya. Hal itu membuat Reza tidak nyaman dan meminta temannya untuk sesekali melihat.

Namun tak seorangpun dari teman-temannya pernah melihat orang itu. Beberapa dari mereka menganggap Reza hanya mencari sensasi. Hari berganti hari, dalam waktu seminggu Reza semakin aneh. Dia menjadi pemarah dan tidak suka jika temannya datang.

Kamis malam, teman-teman Reza dikejutkan dengan kabar kematiannya. Reza ditemukan tidak bernyawa di dalam sebuah kamar yang berada di lantai lima gedung kosong.

Reza terus membaca pesan teman-temannya dan menangis histeris. Beberapa teman meminta maaf karena tidak mempercayai ceritanya tentang gedung kosong dan sebagian lagi tidak percaya ia pergi begitu cepat. Reza terus menangis dan seketika semua ingatannya akan kehidupannya berputar kembali.

Di depannya, berdiri seorang pria yang ia kenal. Seorang pria yang dulu menghabiskan waktu bersamanya di SMA. Seorang pria yang mengetuk pintunya di pagi hari hanya untuk menanyakan keadaannya. Seorang pria yang sudah lebih dulu pergi.