Misteri Lantai Lima, Cerpen Horor Tentang Kematian Reza

May 04, 2015 Posted by Edutafsi , ,
Hujan reda dan langit mulai terlihat cerah. Reza menarik selimutnya, melipatnya seperti biasa, dan meletakkannya di atas bantal. Ia berjalan ke meja belajar untuk memeriksa kotak pesan di Hp-nya. Ada banyak pesan masuk dan ia mencoba membukanya satu persatu namun ia memutuskan berhenti saat menyadari bahwa isi pesan-pesan tersebut hampir sama.

Pesan tersebut berasal dari teman-temannya. Reza menarik nafas dan bergegas ke kamar mandi. Dalam hatinya ia bertanya-tanya apa yang telah terjadi sehingga teman-temannya mengiriminya pesan seperti itu. Ia tak membalas satupun pesan yang ia terima.

Begitu selesai mandi, pintu kamar Reza diketuk dari luar. Reza meminta orang itu untuk menunggu. Sambil berdehem ia terburu-buru memakai pakaiannya. Ia mengancing bajunya sambil membuka pintu dan mendapati seseorang yang sudah tak asing lagi baginya.
"What?", tanya Reza ketus.
"May I?", anak itu meminta izin untuk masuk.
"What u want? aku sedang terburu-buru."
"Gak ada. Aku cuma mau mampir saja."
"Oke, berarti kau datang di waktu yang tidak tepat. Aku sudah terlambat 10 menit yang lalu dan aku harus segera berangkat", Reza telihat teburu-buru mengganti isi tasnya.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya? why?" Reza mengernyitkan dahi dan menatap wajah anak itu dengan sedikit geram.

Reza memang sedikit tidak ramah ketika sedang terburu-buru. Ia tidak tahu harus bagaimana menyikapi posisinya dengan baik.
"Aku dengar kejadian itu."
"Kejadian apa?"
"Wajahmu pucat Za, aku rasa kau harusnya istirahat."
"Oke dengar, aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Dan jika tidak keberatan bisakah kita keluar sekarang karena aku sudah benar-benar telat, dan kita bisa menyambung pebincangan ini nanti, oke?"

Reza menyeret temannya keluar dan segera mengunci pintu. Ia berjalan menuruni anak tangga dan meninggalkan asrama dengan langkah yang terburu-buru. Sepanjang perjalanan, tatapan Reza terlihat kosong dan fikirannya kacau.

Ia tidak tahu apa yang mengganggu fikirannya saat itu. Sambil memandang jam tangannya ia terus berjalan. Setibanya di kelas Reza tidak menemukan teman-temannya. Kelas itu kosong dan masih terlihat rapi seolah-olah tidak pernah ada orang sebelumnya.

Rezapun berfikir bahwa mungkin perkuliahan di pindah ke kelas lain. Ia segera mengirim pesan ke teman dekatnya dan tak kunjung mendapat balasan. Ia berjalan sepanjang koridor dan mengintip ke dalam kelas dari sisi pintunya. Karena tidak menemukan teman-temannya, Reza memutuskan untuk pegi ke perpustakaan.

Begitu keluar dari gedung perkuliahan, langit terlihat mendung kembali. Tiba-tiba saja hari menjadi gelap seperti petang. Pepohonan berayun kencang dan dedaunan berguguran memeluk tanah. Dengan cahaya lampu penerang yang sebagiannya mati, jarak pandang juga menjadi terbatas.

Reza berjalan terburu-buru ke perpustakaan karena khawatir hujan akan turun. Ia berjalan di sepanjang trotoar dan merasa heran karena tidak melihat seorangpun di perjalanan. Kampus benar-benar sepi seperti hari libur.

Ia lantas bertanya-tanya dalam hatinya bahwa mungkin hari ini adalah hari libur. Reza membuka kembali pesan di hp-nya dan mencoba mencermati isi pesan tersebut. Ia masih tidak tahu maksud dari pesan tersebut.

Reza semakin heran ketika mendapati perpustakaan tertutup. Di saat yang sama, hujanpun turun begitu deras disertai angin yang membuat Reza harus berteduh di lorong masuk perpustakaan. Anak itu memeluk tubuhnya sendiri dan mulai menggigil.

Ia mengelurkan jaket dari tasnya dan segera mengenakannya. Dengan tangan gemetaran Reza mencoba menghubungi teman-temannya namun tak satupun menjawab panggilannya. Ia lantas menggerutu dan mencoba mengamati sekelilingnya.

Pemandangan yang ia lihat mebuat Reza terheran-heran. Ia memang jarang ke pepustakaan tapi ia yakin betul bagaimana lingkungan perpustakaan. Semua yang ia lihat benar-benar berbeda.
"Sejak kapan perpus jadi seperti ini?" tanyanya.

Reza terus memperhatikan hp-nya berharap ada balasan dari temannya. Anak itu semakin gelisah karena langit semakin gelap dan hujan tak kunjung reda. Sudah hampir dua jam ia terjebak di lorong itu dan badannya semakin menggigil.

Karena gemetar, Rezapun menjatuhkan hp-nya. Buru-buru ia memungut hp-nya yang berserak dan mencoba menghidupkannya kembali. Akan tetapi hp itu tidak lagi berfungsi. Hal itupun membua Reza kesal. Ia lantas berteriak sambil membanting hp-nya. Ia terlihat sangat geram.

Terjebak hujan dan tidak bisa bebuat apa-apa memang hal yang sangat dibenci oleh Reza. Sedari tadi ia berniat untuk kembali ke asrama menembus hujan namun hujan yang disertai badai membuatnya khawatir akan banyak pohon yang tumbang di jalanan sehingga ia mnegurungkan niatnya. Tapi siap sangkah jika hujannya begitu lama sehingga membuatnya marah.

Ketika Reza memutuskan untuk duduk di sudut lorong yang merupakan sau-satunya lokasi yang bebas dari air hujan tiba-tiba ia mendapati seseorang berlari ke lorong tersebut. Seorang pria bertubuh kurus yang tingginya hampir sama dengannya.

Pria itu berjalan menghampiri Reza dan menyapanya.
"Kau baik-baik saja?"
"No, aku sudah berjam-jam di sini dan hujan belum juga reda"
"Berjam-jam?" pria itu tersenyum. "Memangnya apa yang kau lakukan di sini?"
 
Reza memandang pria itu geram. Ia merasa pertanyaan itu sangat tidak pantas ditanyakan.
"Memangnya apa lagi?" Reza berusaha tidak ketus.
"Aku tidak tahu?"
"Apa kau kuliah di sini?" tanya Reza. 
"Ya, dulu aku kuliah di sini."
"Kau sudah selesai? lalu apa yang kau lakukan di sini?"
"Mencari seseorang"
"Oh, apa ini hari libur? Kenapa kampus jadi sangat sepi?" tanya Reza.
Pria itu lantas tersenyum, "Aku fikir kau lebih tahu seharusnya."
"Ya, aku memang sedikit lupa", Reza menatap wajah pria itu lekat-lekat. Ia sedikit meras tidak nyaman karena merasa pria itu sedikit aneh. Untuk sesaat Reza merasa sering melihat pria itu namun sesaat kemudian ia tak mengingat apapun.

Reza berjalan menjauhi pria itu dan mencari tempatnya sendiri. Pria itu tetap di posisinya dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Wajahnya pucat dan matanya sayu. Rezah berteduh di sudut lainnya dan tidak peduli jika air hujan terkadang membasahi bajunya.

Tak lama di sana, hp Reza tiba-tiba berdering. Ia segera mengeluarkan hp itu dari kantungnya dan merasa sedikit senang karena hp itu hidup kembali. Reza memeriksa kotak pesan dan membaca beberapa pesan dari temannya. Pesan-pesan itu membuat hati Reza hancur.

Dalam seketika ia menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Ia menatap ke arah pria tadi dan mendapati pria itu berdiri tanpa kaki membelankanginya. Reza semakin panik ketika pria itu menatapnya. Pria itu tersenyum dengan senyuman menakutkan yang membuat Reza histeris.

Semua berawal di hari jumat minggu lalu. Tiba-tiba Reza menjadi aneh dan sering mengeluh kepada teman-temannya. Reza bercerita bahwa ia sering melihat seseorang di gedung kosong yang terletak di depan gedung asrama.

Kamar Reza berada di lantai lima dan tepat di kamar yang sejajar dengan kamarnya, di gedung kosong tersebut, Reza seringkali mendapati seorang pria menatap ke arahnya. Hal itu membuat Reza tidak nyaman dan meminta temannya untuk sesekali melihat.

Namun tak seorangpun dari teman-temannya pernah melihat orang itu. Beberapa dari mereka menganggap Reza hanya mencari sensasi. Hari berganti hari, dalam waktu seminggu Reza semakin aneh. Dia menjadi pemarah dan tidak suka jika temannya datang.

Kamis malam, teman-teman Reza dikejutkan dengan kabar kematiannya. Reza ditemukan tidak bernyawa di dalam sebuah kamar yang berada di lantai lima gedung kosong.

Reza terus membaca pesan teman-temannya dan menangis histeris. Beberapa teman meminta maaf karena tidak mempercayai ceritanya tentang gedung kosong dan sebagian lagi tidak percaya ia pergi begitu cepat. Reza terus menangis dan seketika semua ingatannya akan kehidupannya berputar kembali.

Di depannya, berdiri seorang pria yang ia kenal. Seorang pria yang dulu menghabiskan waktu bersamanya di SMA. Seorang pria yang mengetuk pintunya di pagi hari hanya untuk menanyakan keadaannya. Seorang pria yang sudah lebih dulu pergi.