Sepasang mata bola terjaga cahayanya
Melingkar di perut kedua tangannya
Mencoba bertahan, demi si kecil yang ingin bebas
Ke dunia, kau sambut kelahiranku
Tangisanku Ibu, menyunggingkan senyum di wajahmu
Peluh yang menetes seakan terbayar
Kau hela nafasmu penuh syukur
Seakan hari esok akan berubah indah
Meski misteri hidup tak selalu dapat kau terka
Ibu, dulu genap lima usiaku
Saat kita berjalan bergandengan tangan
Seolah sepasang kekasih dimadu cinta
Menyongsong matahari seolah bumi miliki kita berdua
Seakan yakin esok akan terbit lagi
Ibu, ingatkah dulu aku bercerita
Tentang harapan dan anganku yang bebas
Senyum di wajahmu seolah tunjukkan puas
Seakan semua yang kukatakan pasti dapat kugapai
Dan matamu tak berbohong
Dulu, selalu kau bertanya
Kemana aku kan pergi jika kau tiada
Selalu sama jawabku, kuingin ikut denganmu
Kau tersenyum, menyeka airmatamu
Lalu kau mengangkatku ke udara
Ibu, kini kau benar-benar pergi
Mengapa tak kau tanya lagi saat terakhir?
Kemana aku kan pergi?
Pada siapa ku mengadu?
Mengapa kau tak tanyakan itu?
Ibu .....
Sekalipun tua sudah kini usiaku
Namun masih di sana jiwaku terkubur
Di waktu kau menggenggam erat jemariku
Berjalan kita berdua menyusuri waktu
Menyongsong hari esok berdua
Ibu .....
Dengarkah kau jika ku bertanya?
Banggakah kau denganku kini?
Di sini aku berdiri, di hadapan peristirahatanmu
Sebab tak tahu mengatasi rasa rindu
Sebab tak tahu bagaimana menyeka airmataku
Dalam doa yang selalu kupanjatkan
Tersimpan harapan yang selalu kudambakan
Andai pun memang ada, kehidupan berikutnya
Ibu, jadilah ibuku sekali lagi
Jadilah ibuku, untuk selamanya!
Karya : Admin Kitapuistic
