Embun yang bergelantungan, akhirnya tak mampu bertahan
Menetes dan tercerai berai, menangisi yang mengering
Tempatnya berdiri sejuk, segar tercukupi airnya
Sekalipun terik nanti, ia akan segar di sore hari, kembali
Pucuk daunnya tegak percaya diri
Menanti embun esok pagi
Di atas daun bertengger makhluk kerdil
Dengan sayap kecil ia bertopang
Melompat-lompat seolah ingin menjatuhkan semua debu
Meninggalkannya sebagai jejak, untuk esok ia lihat
Agar ia mengenal dedaunan rimbun
Memastikan mereka tidak berganti, gugur dan kering di tanah
Ia merasa guncangan yang rapuh
Namun tetap di situ
Makhluk kerdil bersayap kecil
Terus menari sambil waspada, sadar daun tak lagi kuat
Henti sejenak, bertopang dagu, tapi matanya berkaca
Ia kepakkan sayap kecilnya, mencoba untuk melompat
Semakin kuat, semakin ia lemah
Tak lagi mampu mengudara
Makhluk kecil bersayap lemah
Seperti daun, menunggu gugurnya
Berharap berubah menjadi elang, takhlukkan buasnya angin
Bertanya-tanya dalam hatinya
Apakah tempatku mengadu?
Bertanya-tanya dalam hatinya
Apakah ada yang mengaturku?
Terus bertanya dalam hatinya
Apakah ia peduli?
Sayap kecil melekat di bahunya
Sesekali ia meringis, mencoba melepasnya
Merasa itu tiada berguna, tak dapat angkat tubuhnya
Makhluk kerdil, bersayap kecil
Terduduk pasrah, di atas daun
Menunggu gugur