Ayah, Aku Tak Ingat, Sebuah Puisi Untuk Ayah Tercinta

April 19, 2015 Posted by Edutafsi ,
Kereta malam melaju cepat tinggalkan pengantar
Kurapatkan kancing, lalu memeluk tubuh, menghembus tanganku sendiri
Kupandangi siluet bergerak semu, saling mengejar dan hilang
Di balik kaca menetes kesedihan
Mengajak aku tuk larut

Mata tertutup, nafas terhela, panjang, menyeka airmata
Masih tak sanggup untuk rela, berputar semua di kepala
Ku lihat wajahnya, pernah dulu tersenyum
Sekalipun, bermandikan keringat
Semakin lama, semakin menghitam kulitnya, dan ku tak sadar
Seringkali hanya, aku menuntut
Tanpa mau mengerti lagi
Kupaksa semua apa mauku
Seakan akulah raja

Ayah, masihkah kau bisa tersenyum
Maukah kau lakukan untukku
Rindukah kau, aku jauh di sini, berlari dari dirimu
Karena tak suka, akan takdirmu
Karena tak mampu, hidup denganmu
Mencoba kumpulkan beribu alasan
Aku tak sanggup untuk bertahan

Ayah, aku tak ingat
Kapan terakhir ku abaikan engkau
Keegoisan membesarkanku, seolah ia penguasa
Kau selalu bertahan, seakan memahami, tanpa pernah mendendam
 Ayah, aku tak ingat bagaimana dulu kita saling berdebat
Kau tahu lemahmu, dan aku tak peduli salahku
Tapi hati manusia, tak sekuat baja
Dalam diam, aku rindu

Ayah, aku tak ingat
Seberapa besar cintamu padaku
Tapi hatiku tak bisa pungkiri, kaulah yang selalu ada
Sekalipun ku menolak, kau pantang acuhkan
Kau tetap selalu peduli