Kita berjalan dengan hati menyatukan 2 kaki menjadi satu arah
Terkadang jatuh dan kita saling ulurkan tangan
Aku bilang kau bodoh kau hanya sunggingkan senyum
Lalu ulurkan lidah saat canda tak mampu kau balas
Kita tak butuh permata di dalam dunia
Kita punya cahaya mata jauh lebih silau
Kita tak pernah mengeluh
Hanya saat kita tidak punya waktu
Aku diam kau terus bicara
Tak perduli betapapun aku mengabaikan kau terus membujuk
Aku tak peduli dan terjatuh
Dan tanpa ragu tanganmu kembali terulur
Pelukanmu menyesak
Aku tak bisa bernafas tapi mataku tak berhenti menangis
Gelenyar ini aneh
Betapapun aku benci, terasa nyaman menangis di depanmu
Untuk kesekian kali kau ucap maaf
Dan tanpa kata kau mengerti aku membutuhkanmu
Tak perduli apapun prasangka
Kita masih sahabat
Kau sekarang menjadi aku
Diam tanpa mau melihat, menangis tanpa mau berisak
Aku tak bisa terus bicara
Aku meninggalkanmu dan tak akan terus membujuk
Aku berlari dan tak mampu mengejarmu
Kau jauh padahal di sampingku
Aku bingung bukan lantaran habis akal
Aku tahu sia-sia melakukan hal yang sama
Harus ada yang menjadi lilin saat yang lain kegelapan
Harus ada yang jadi bahu untuk bersandar
Dan saat itulah kau ajarkan bagaimana bersahabat
Bersahabat dengan hati
Sahabat sampai mati.